Ir. Koes Saparjadi, MF

2 Balasan untuk “Ir. Koes Saparjadi, MF”

  1. Selamat malam pak. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan naman saya Faiq mushawwier mujieb umur 20th asal dari merauke pak. Maaf pak sebelumnya saya ingin menanyakan ke bapak soal pemanfaatan fauna untuk di perjualbelikan apakah bisa dilakukan? Soalnya saya melihat potensi SDA disini sangat baik pak. Mohon pencerahannya ya pak. Terimakasih
    Wa : 082197993576

    1. epada Yth : Sdr.Faiq Mushawwier Mujieb
      Di Merauke

      Selamat siang Pak Faiq
      Terima kasih atas perhatian Mas Faiq terhadap fauna (Satwa Liar) Papua.
      Sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku pada dasarnya semua jenis satwa liar yang ada di Indonesia bisa diperdagangkan kecuali jenis satwa liar yang dilindungi sebagaimana disebutkan didalam Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, dan atau satwa/tumbuhan liar yang masuk dalam daftar Appendix I (satu) CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Flora and fauna)
      Apabila satwa liar yang tidak dilindungi tsb akan dikirim ketempat lain di Indonesia( diperdagangkan) harus dilengkapi dengan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa liar Dalam Negeri (SATS-DN)
      Apabila satwa liar tersebut akan dikirim ke luar negeri, wajib dilengkapi dengan dokumen CITES yang dikeluarkan oleh Direktoral Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya (KSDAE) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan oleh eksportir yang sudah terdapat/memiliki ijin sebagai eksportir.
      Biasanya untuk diperdagangkan ke LN diberlakukan sistem kuota yang ditetapkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berdasarkan survey keberadaan jenis satwa tersebut di alam/habitatnya. Hal ini untuk menjaga agar jenis Flora dan Fauna tersebut tidak terancam punah di habitat aslinya.
      Perdagangan jenis satwa liar yang berhasil dari penangkaran tidak dikenankan kuota.
      Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih rinci mengenai tata cara perdagangan satwa ini saya sarankan agar anda berkonsultasi/menghubungi kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang ada di daerah anda.
      Demikian penjelasan saya secara singkat semoga bermanfaat dan terima atas pertanyaan anda.

      Salam saya

      Ir.Koes Saparjadi, MF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *