REHABILITASI KAWASAN KONSERVASI LAUT


Oleh:

Prof. Dr. DEDI SOEDHARMA, DEA

Ketua Pengawas dan Praktisi Konservasi

The Indonesia Wildlife Conservation Foundation (IWF)

 dengan

MULYADI IWF

Peneliti dan Praktisi Konservasi

The Indonesia Wildlife Conservation Foundation (IWF)

 

 

Ekosistim Perairan laut tropis Indonesia merupakan ekosistim yang luas cakupannya meliputi perairan dangkal di pesisir pada unit unit ekosistim tertentu, seperti ekosistim terumbu karang, pantai, daerah pasang surut, padang lamun dan daerah subtidal, sedangkan ekosistim laut dalam meliputi habitat laut di dasar perairan demersal daerah pelagis serta daerah  lainnya yang lebih dalam diatas 100 m ke dalaman air baik pada lapisan masa air maupun habitat dasar bahkan dapat  mencapai ribuan meter di dasar perairan.

 

Semua penghuninya berupa biota laut dari yang berukuran mikro seperti plakton hingga mamalia laut yang berukuran besar paus dengan berat mencapai puluhan ton dan panjang diatas 7 m hidup pada berbagai lapisan air baik di permukaan, tengah sampai di dasar perairan. Jumlah keragaman jenis biota laut jauh lebih besar dari biota di daratan hal ini karena luasnya kawasan laut dangkal juga beragamnya tipe habitat serta ruangan masa air secara volume bisa dimanfaatkan sebagai tempat hidup seperti keberadaan ikan yang menghuni daerah lapisan air organisme nekton dan penghuni habitat dasar organisme bentik.

 

Status jumlah populasi biota laut tersebut banyak yang telah mengalami penurunan terutama  jenisjenis yang dapat dimanfaatkan sebagai komoditi ekonomi, disamping itu juga telah terjadi kerusakan habitat yang semakin meluas akibat pencemaran air, perubahan peruntukan lingkungan pantai, konversi lahan pantai dan perairan menjadi peruntukan lain  untuk pelabuhan, lahan pemukiman, resort wisata dsb.

 

Kawasan Konservasi Laut

Pemerintah telah mengalokasikan sebagian wilayah menjadi kawasan konservasi laut dalam berbagai bentuk seperti kawasan Suaka Alam Laut, dan kawasan Pelestarian Alam laut seperti Taman laut, yang tersebar diseluruh perairan Indonesia agar dapat melindungi sebagai wilayah yang masih alami dan dapat melindungi keanekaragaman hayati laut Indonesia. Pada dasarnya kawasan konservasi laut berfungsi untuk melindungi prosesproses ekologi (ecological life support systems) dalam suatu sistim penyangga kehidupan, melindungi dan mengamankan sumberdaya genetik biota laut serta dapat memanfaatkannya berdasarkan kaidahkaidah pelestarian (sustainable yealds).

 

Untuk lebih memudahkan dalam melindungi kawasan konservasi berdasarkan peruntukannya dikelompokan menjadi dua yaitu Kawasan Suaka Alam Laut (Cagar Alam Laut dan Suaka Margasatwa Laut), sedangkan Kawasan Pelestarian Alam terdiri dari Taman Nasional Laut, Taman Wisata Alam Laut. Hutan Lindung Pantai, Kawasan Sempadan Pantai dan Sabuk Hijau Pantai semuanya dikelompokkan kedalam kawasan perlindungan, dan Kawasan Non Lindung. Kawasankawasan tersebut yang sudah dikukuhkan sebagai kawasan perlindungan laut menjadi otoritas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sedangkan kawasan diluar kawasan tersebut dikelola oleh sektor lain.

 

Sumber Daya laut  hayati seperti ikan telah diexploitasi oleh masyarakat lokal dengan peralatan yang masih terbatas dan tradisional seperti pancing, payang, pukat pantai dsb, maupun dengan peralatan yang lebih efisien dan modern seperti alat tangkap ikan pukat harimau (jaring trawl), pukat cincin (purse seine) dan jaring hayut (gill net). Usaha exploitasi biota laut terutama udang dan ikan meningkat dengan cepat pada periode tahun tujuh puluhan hingga tahun delapan puluhan dimana pada saat itu pemerintah orde baru memberikan kesempatan kepada investor asing bermitra dengan perusahaan dalam negeri (joint venture) seperti Jepang, Korea dan Taiwan melakukan penangkapan besarbesaran terutama komoditi udang laut dari jenis udang penaid. Setelah berjalan sekitar 10 tahun, dampak langsung  terjadi terutama di Selat Malaka dan Laut Jawa ada indikasi tangkap lebih terhadap ikan dan udang. Ikan dasar ditangkap secara besarbesaran oleh nelayan lokal untuk dijadikan ikan asin yang laku dijual di pasaran dalam negeri.

 

Seiring dengan meningkatnya pembangunan di sektor lain seperti : Pertanian, Pertambangan, Kehutanan, Pertambangan terutama minyak di lepas pantai, di beberapa lokasi seperti Teluk Jakarta, Teluk Lampung, Selat Malaka dan disekitar pantai Surabaya telah terkontaminasi oleh berbagai sumber pencemar baik dari daratan (land base pollution) maupun dari laut bebas seperti pertambangan minyak lepas pantai dan lalu lintas kapal pengangkut minyak di Selat Malaka dan daerah Pantura.

 

Kawasan konservasi laut yang benarnya secara utuh bukan menjadi bagian dari kawasan konservasi di daratan seperti TN. Ujung Kulon, baru diintensifkan setelah tahun delapan puluhan yang dimulai dengan workshop tentang kawasan konservasi laut di Ever Green pada tahun 1978. Dari hasil workshop tersebut ditentukan daerahdaerah zonasi mana yang bisa dijadikan kawasan konservasi. Perluasan kawasan konservasi laut terus dikembangkan oleh Kemenhut sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) pada saat itu, yang dibantu oleh para expert asing yang melakukan survey potensi kawasan di berbagai lokasi seperti : Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta, Bunaken, Takabonerate, Karimun Jawa dsb.

  

Exploitasi Di Kawasan Non Lindung

Wilayah diluar kawasan yang telah ditentukan diatas dan yang merupakan bagian terbesar sebagai lahan perairan laut digunakan untuk berbagai kepentingan seperti untuk Pertahanan Keamanan, Zona Panangkapan Ikan (fishing ground), pertambangan dsb, juga berfungsi sebagai wilayah untuk kegiatan penangkapan ikan, lokasi tambang minyak, alur lintas kapal serta fungsi laut untuk asimilasi berbagai masukan dari daratan melalui masa air yang masuk ke laut dari daratan.

 

Kegiatan masyarakat melakukan usaha produktif dengan memanen sumberdaya hayati laut berupa ikan, udang, kerangkerangan dan rumput laut sudah sejak lama dilakukan bahkan mungkin sudah diatas empat generasi. Dengan adanya permintaan yang makin meningkat untuk komoditi laut tersebut, masyarakat mulai melakukan penangkapan dengan caracara merusak seperti dengan penggunaan bahan peledak/dinamit, dan racun/obat bius ikan (potassium sianida). Masyarakat pantai hampir sebagian besar pernah melakukan pengeboman, terutama untuk menangkap ikanikan karang dan biota laut lainnya seperti :  jenisjenis ikan kerapu, lobster/udang barong, dan ikan napoleon. Aktifitas penangkapan ikan tersebut bukan hanya untuk ikan konsumsi tetapi yang lebih dulu dilakukan oleh masyarakat penangkap ikan hias dengan Potasium syanida.

 

Pengamanan Sumber Daya Genetik

Sumber daya genetik ikan merupakan salah satu bagian penting dari keanekaragaman hayati laut, disamping ekosistim dan penggolongan jenis ikan laut dan non ikan laut. Terjadinya kerusakan habitat diberbagai wilayah akibat penangkapan yang tidak ramah lingkungan atau terjadinya pencemaran perairan laut sebagai habitat tempat hidup berbagai jenis biota laut. Kelihatannya pengamanan terhadap sumberdaya genetik ikan hanya sebatas di kawasan konservasi saja, sedangkan diluar kawasan masih belum dilakukan. Upaya untuk melakukan perlindungan terhadap benih dan induk ikan masih sebatas di kawasan konservasi laut, walaupun pada kenyatannya masih sulit menjaga kawasan tersebut dari perambahan masyarakat nelayan seperti yang terjadi di Lampung, Sulawesi Tenggara, Takabonerate, NTT NTB, Maluku dan Papua.

 

Berbagai program kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan daerah seperti membuat percontohan untuk memperbaiki habitat dan meningkatkan stok ikan dengan rumpon dasar, walaupun  hasilnya masih belum memuaskan. Berbagai jenis biota laut seperti kima raksasa (giant clam), turbo marmoratus, trochus (topshell), penyu laut dan mamalia (lumbalumba, duyung dan paus) sudah dimasukan kedalam binatang yang dilindungi (Apendix 1), sedangkan berbagai jenis karang batu (stony coral) telah dimasukan kedalam appendix II sehingga pemanfaatannya harus melalui kuota.

 

Pembinaan Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir terutama yang berprofesi sebagai nelayan dan petani ikan sangat menggantungkan kelangsungan hidupnya terhadap sumberdaya genetik biota laut. Keanekaragaman hayati laut terutama berbagai jenis biota laut disekitar tempat mereka berukim mampu memberikan kontribusi sebagai bahan makanan dan untuk kegiatan ekonomi mereka. Pada saat penomena terjadinya kerusakan habitat sedangkan pemanenan sumber daya hayati laut sudah pada tingkat perusakan terhadap biota laut dan lingkungan tempat hidupnya seperti pada habitat terumbu karang ikan ditangkap dengan menggunakan bahan peledak dan obat bius. Disamping itu di beberapa wilayah seperti Teluk lampung, bahkan di kawasanTaman Nasional Takabonerate dan Kep. Wakatobi praktek penangkapan ikan yang merusak lingkungan, ternyata masih terus berlangsung. Pemerintah melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah membuat proyek rehabilitasi terumbu karang proyek coremap, tujuan proyek coremap salah satu tujuannya adalah mengurangi bahkan untuk meminimalisir atau menghilangkan kegiatan masyarakat yang merusak terhadap sumberdaya laut dengan melakukan pembinaan masyarakat nelayan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

 

Upaya penyediaan lapangan kerja baru melalui pengembangan budidaya laut, meningkatkan nilai tambah hasil laut dan perbaikan habitat, pengembangan rumpon dasar untuk shelter ikan   sudah banyak dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan di daerah walaupun mungkin masih dalam bentuk percontohan. Dari hasil COP CITES di Bangkok (2004) teripang dan kuda laut sudah dimasukkan sebagai biota yang terkena moratorium penangkapan, karena dianggap jumlah populasi di alam sudah semakin menurun. Untuk mengatur sistem explorasi sumberdaya hayati ikan Indonesia juga telah meratifikasi konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (CBD) sebagai instrumen untuk mengatur berbagai regulasi tentang mekanisme pemanfaatan bersama keanekaragaman hayati termasuk biota laut yang stok dialamnya sudah mulai kritis.

 

Daerah Perlindungan  Laut

Daerah perlindungan laut atau DPL adalah kawasan perairan laut yang dialokasikan oleh Pemerintah Daerah melalui persetujuan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan tujuan untuk mengendalikan dan meningkatkan sumberdaya ikan terutama pada lokasilokasi habitat yang telah rusak. Untuk menentukan DPL tersebut, peranan masyarakat nelayan setempat menjadi penting karena sejak awal telah dilibatkan dalam penentuan lokasi dan kesepakatan peraturan yang diterapkan. Pada prinsipnya nelayan turut menjaga lokasilokasi yang diatur sistim penangkapannya, sehingga diharapkan dari daerah perlindungan tersebut memberikan kontribusi benih /larva biota laut termasuk ikanikan yang telah layak tangkap. Dari hasil studi di berbagai daerah ternyata model tersebut memberikan hasil yang menggembirakan terutama nelayan menjadi sejahtera dan stok ikan di laut menjadi lestari.

 

UpayaUpaya yang Perlu Dilakukan

Guna mencegah terjadinya kerusakan ekosistem pada daerah kawasan konservasi laut ada beberapa upaya solusi sebagai langkah guna mengantisipasi terjadinya keruskan yang semakin parah akibat dari aktivitas manusia yang memanfaatkan sumberdaya laut secara berlebihan. Upaya-upaya tersebut meliputi :

1)      Pengendalian pengiriman spesimen ke luar negeri terutama dalam keadaan hidup agar biota tersebut tetap berada di Indonesia.

2)      Meningkatkan kemampuan teknologi penangkaran melalui captive breeding dan budidaya terutama terhadap biota langka dan rawan kepunahan,untuk upaya peliaran atau restoking ke habitat aslinya sehingga, sebagian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemanfatannya.

3)      Melakukan upaya rehabilitasi habitat melalui pengembangan(enchanment) dan pengkayaan(enrichment), penciptaan habitat baru.(insitu conservation)  seperti tehnik pelapisan kapur( mineral accression),rumpon dasar,artificial reef dan biorock

4)      Pengembangan teknik budidaya laut bagi komoditi yang mempunyai prospek nilai  ekonomis tinggi  seperti: Ikan  kerapu,napoleon ,tuna, tongkol,teripang dan kuda laut dan ikan dasar(demersal fish) seperti kakap merah,ikan sebelah,tigawaja,manyung dsb.

5)      Melakukan transplantasi biota non ikan seperti corals,spons laut,karang lunak untuk menciptakan habitat baru dan komunitas baru pada lahan lahan yang masih  kosong.

6)      Membangun kelembagaan yang solid pada tatanan pemerintahan seperti Management Authority dan Scientific Authority kaitannya dengan sistim perdagangan satwa langka mengikuti regulasi CITES dalam lingkup DKP,Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi.

7)      Mengembangkan komoditi hayati laut untuk sediaan  bahan makanan kesehatan,bioenergi dan obat obatan (bioprospecting)  melalui pencarian formula dan baru untuk (novel compound) dari mikro alga, karang lunak, spons laut,kuda laut, squalene,teripang,rumput laut dsb.

8)      Membangun koleksi plasma nutfah biota laut untuk menyelamatkan sumberdaya genetic dari kepunahan akibat pemanasan global seperti genbank, benih ikan unggul, spora rumput laut, biji tumbuhan pantai  lamun ,melalui tehnik preservasi seperti yang telah dilakukan oleh Negara Scandinavia terhadap plasma nutfah komoditi pertanian.

Mengembangkan tehnik yang ekonomis dan efisien  model sistim air berjalan (running water systems) untuk memfasilitasi kegiatan penelitian ,penciptaan  aqua bioreactor terutama untuk menghidupi biota laut pada berbagai tingkat hidup seperti larva,pendederan,dan pemeliharaan induk (brood stok).

Categories: Konservasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
id_IDIndonesian en_USEnglish