PENGETAHUAN BIOSISTEMATIK
DALAM UPAYA KONSERVASI SUMBERDAYA PERIKANAN
Oleh :
Mulyadi IWF
Praktisi Konservasi Bidang Perikanan

Keunikan dan tingginya keanekaragaman hayati Negara Indonesia tidak terlepas dari keadaan bentuk pulau, iklim, sejarah geologi, dan lain sebagainya. Indonesia yang terletak di daerah tropik yang memiliki iklim stabil hampir sepanjang tahun, tidak heran jika puluhan ribu jenis biota yang tergolong dalam kelompok binatang, tumbuhan dan mikroba dapat dijumpai di Negara Indonesia ini. Dari masing-masing jenis biota tersebut baru sedikit sekali yang telah terdokumentasikan nama ilmiahnya (species) berdasarkan hasil penelitian biosistematik (taksonomi) yang dilakukan para ilmuwan biologi sejak beberapa dekade lalu, sehingga masing-masing jenis biota tersebut memiliki satu nama ilmiah yang berlaku secara internasional. Selain itu juga, contoh specimennya telah tersimpan di museum/laboratorium dan penyimpananya telah diatur menurut taxon kelompok besarnya (marga atau genus, suku atau famili dan kelas dalam susunan taxonomi).

Pemahaman Biosistematik

Pada dasarnya pemberian nama ilmiah setiap jenis biota menggunakan dasar bahasa latin, dengan aturan yang standar atau khusus. Hal tersebut sangat penting dilakukan, karena untuk menjaga keseragaman serta menghindari kesalahan penamaan jika hanya menggunakan nama lokal atau menggunakan nama daerah saja. Sangat banyak sekali dalam satu satu jenis binatang atau tumbuhan yang dijumpai di suatu tempat/daerah memiliki beberapa nama lokal karena sebaran letak geografisnya yang luas. Selain itu pemberian nama lokal biasanya dilakukan oleh penduduk setempat dari suku atau ras yang berbeda bahasa, atau dua jenis yang berbeda namun memiliki nama yang sama karena bentuk dan warnanya yang hampir serupa.

Konservasi kawasan perairan merupakan salah satu langkah untuk dapat mempertahankan sumberdaya perikanan berkelanjutan di suatu perairan. Perkembangan pembangunan diiringi dengan laju pertambahan jumlah penduduk serta adanya perubahan pemanfaatan sumberdaya perairan yang bersifat destruktif tanpa memperhatikan prinsip konservasi sangat jelas memberikan dampak terhadap kelestarian dan kepunahan sumberdaya perikanan, sehingga hal tersebut akan berakibat pada terjadinya kerusakan habitat serta terancam menurunnya populasi biota di perairan tersebut. Untuk jenis ikan saja, dahulu kita jumpai pada awal era kemerdekaan Negera Indonesia keberadaan ikannya masih sangat berlimpah baik jumlah maupun jenisnya di sebagian besar sungai-sugai atau danau-danau, akan tetapi sekarang keberadaannya sangat terbatas bahkan cendrung mengalami penurunan populasinya, sehingga keadaannya cukup mengkhawatirkan. Untuk itu diperlukan upaya penyelamatan jenis yang telah terancam kepunahan melalui upaya koservasi populasinya, dimana upaya konservasi tersebut harus dilakukan dengan cara yang standar, sistematis, dan sesuai dengan jenisnya.

Penanggulangan Kelestarian Perikanan

Sebagai upaya konservasi untuk menjaga kelestarian sumberdaya dibidang perikanan Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2007 yang memuat tentang ketentuan konservasi sumberdaya ikan, dalam rangka upaya perlindungan pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya perairan, termasuk ekosistem, jenis dan genetik. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga serta menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumberdaya ikan. Dengan adanya Peraturan Pemerintah tersebut diharapkan masyarakat Indonesia dapat dengan bijak dan memiliki rasa tanggung jawab untuk memanfaatkan sumberdaya ikan sesuai dengan petunjuk yang tercantum didalamnya, sehingga ketersediaan sumberdaya ikan dan habitatnya dapat terjaga kelestariannya.

Dalam bidang ilmu perikanan pun hampir semua jenis biota akuatik yang telah dimanfaatkan oleh manusia dipelajari didalamnya baik itu kelompok ikan, kerang-kerangan, udang-udangan, cumi, tripang,  dll, baik yang hidup di air tawar, air payau maupun di air laut. Akan tetapi dari jenis-jenis biota akuatik tersebut, jenis biota akuatik perairan tawarlah yang paling banyak terancam dari kepunahan karena daerah sebarannya lebih terbatas (sempit) dan tergolong yang paling banyak terkena dampak eksploitasi serta terkena pengaruh pencemaran. sehingga dampaknya pun menimbulkan gangguan dan kerusakan ekosistem pada habitat hidupnya. Untuk meyakinkan secara ilmiah bahwa jenis biota tertentu terancam dari kepunahan, oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan penelitian secara intensif lebih lanjut dan memonitoring secara ilmiah, baik itu kualitas maupun kuantitasnya di alam. Langkah awal yaitu dengan cara menentukan kepastian kebenaran nama ilmiah jenisnya melalui identifikasi secara ilmiah lewat buku yang memuat petunjuk “Kunci Identifikasi” yang telah diakui kebenarannya.

Penguatan Sumberdaya Manusia (SDM)

Menurut pendapat Ubaidillah (2010) menyatakan bahwa ketidak mampuan pengenalan jenis dan pengungkapan potensinya, diakibatkan oleh lemahnya kemampuan sumberdaya manusia baik secara kuantitas maupun kualitas. Kemampuan taxonomi dan produk-produknya merupakan kebutuhan esensial dalam pengelolaan dan pemanfaatan biota. Dengan terbatasnya jumlah keahlian taxonomi di Indonesia terbukti merupakan salah satu faktor penyebab lambannya pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati.

Dalam kenyataan yang ada, ternyata sangat sedikit sekali sumberdaya manusia (SDM) di lembaga penelitian biologi/perikanan/kehutanan yang mempunyai kemampuan identifikasi.  Bahkan, di perguruan tinggi yang memiliki fakultas-fakultas berkurikulum dibidang biosistematik dan ekologi pun masih sangat minim. Hal tersebut karena kurangnya minat dan keterbatasan kemampuan para pengajarnya. Padahal dibidang pekerjaan tersebut sangat diperlukan, terutama untuk pekerjaan yang terkait dalam bidang koservasi berbagai jenis biota. Bahkan sebagian besar angkatan muda yakni para pelajar dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, banyak yang tidak mengetahui nama dan bentuk jenis-jenis biota yang hidup di sekitar tempat tinggalnya, meski hanya nama lokal, kecuali jenis-jenis yang sering kita jumpai di rumah, sudah biasa kita makan, atau kita manfaatkan.

Untuk mencari solusi dalam mengatasi hal-hal tersebut sepertinya diperlukan peningkatan pembinaan para pengajar perguruan tinggi dalam hal ini dosen bidang biosistematik terutama pelatihan pengenalan nama ilmiah, jenis binatang atau tumbuhan dengan menerapkam kunci identifikasi untuk kelompok jenis yang dipelajari. Untuk membantu peningkatan SDM yang profesional dan ahli dalam bidang tersebut, diperlukan kerjasama untuk menyelenggarakan pelatihan dibidang biosistematik dan studi populasi, bekerja sama dengan LIPI (bidang botani dan zoologi) karena telah memiliki tenaga-tenaga yang berpengalaman sesuai dengan bidangnya masing-masing, termasuk mikrobiologi, dengan mencari dukungan dari kementerian terkait seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan perusahaan-perusahaan besar (budidaya udang, penangkapan ikan, pertambangan, dll.) yang diharuskan ikut bertanggung jawab dalam membantu pelaksanaan program konservasi.

Upaya Penyelamatan Konservasi Perikanan

Tujuan konservasi suatu jenis secara umum adalah untuk menjaga agar populasinya tetap terjaga. Meskipun jenis yang bersangkutan terus dimanfaatkan, akan tetap dapat dihindarkan dari penurunan populasi yang dapat mengancam kepunahannya, sehingga pemanfaatannya dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Untuk menghindari terjadinya kerusakan populasi suatu jenis binatang atau tumbuhan tersebut, dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :

  1. Menjaga atau mengawasi kegiatan pemanfaatan sumberdya perairan dengan ketat agar eksploitasinya tidak berlebihan, karena setiap jenis binatang atau tumbuhan mempunyai keterbatasan kemampuan dalam berkembang biak. Jika eksploitasinya berlebihan akan menyebabkan pertumbuhan populasinya menjadi menurun kearah kepunahannya.
  2. Menjaga kualitas lingkungan hidupnya dengan cara :
    1. Menghindarkan terjadinya pencemaran yang dapat mengurangi kemampuan berkembang biak dan kemampuan mencari makan untuk kelangsungan hidupnya.
    1. Menjaga kestabilan fluktuasi kualitas dan kuantitas air sebagai                         habitat tempat hidup biota akuatik. Karena apabila ketersediaan sumber air berkurang, dampaknya jelas akan mengganggu kelangsungan hidup biota akuatik tersebut..
    1. Kerusakan hutan yang menyebabkan hilangnya kemampuan untuk  menahan/menyimpan air hujan sebagai air tanah menyebabkan banyak danau dan sungai mengalami kekeringan pada musim kemarau dan terjadi banjir besar pada saat musim hujan, sehingga kejadian tersebut terbukti dapat merusak usaha perikanan dan pertanian.
  3. Mencegah dengan ketat tindakan eksploitasi SDA yang bersifat destruktif atau merusak tanpa memperhatiakn prinsip konservasi. Salah satu contohnya adalah penangkapan ikan di laut dengan menggunakan bahan peledak, hal tersebut jelas imbasnya adalah dapat merusak ekosistem terumbu karang yang digunakan sebagai habitat dari ikan tersebut. Demikian pula eksploitasi jenis ikan yang berlebihan tanpa mengenal waktu masa berkembang biak dan tanpa persyaratan alat yang digunakan, sehingga dampaknya dapat menurunkan populasi induk pada masa berkembang biak.

Upaya-upaya tersebut perlu dilakukan untuk penyelamatan jenis-jenis yang terkait dengan produk perikanan dari bahaya kepunahan, sehingga keberadaanya bisa tetap terjaga sebagai sumberdaya plasma nutfah yang hidup di habitatnya baik dikawasan konservasi maupun yang hidup diluar kawasan konservasi.

Categories: Uncategorized

1 Comment

A WordPress Commenter · Januari 12, 2021 at 1:25 pm

Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *