Kita telah mengetahui bahwa bambu memiliki banyak manfaat, untuk keperluan domestik di waktu-waktu yang lalu, namun di era milenial ini apakah bambu masih diperlukan?

Pada tanggal 30 Oktober 2021 telah diselenggarakan Webinar yang berjudul “Mendorong Bambu Menuju Komoditas Milenial dan Global” dengan penyelenggara Tropenbos.

Dalam pendahuluannya dinyatakan bahwa bambu adalah tanaman unggul sebagai konstruksi (dengan pengawetan>30 tahun), laju pertumbuhan yang superior (50 ton/ha/tahun) dan sebagai carbon sink (50 -100 ton/ha/tahun). Bambu bisa tumbuh di lahan marginal, tahan kekeringan (di NTT, 7-9 bulan), penyerap air (rumpun bambu menyerap 5.000 liter air), pengendali erosi dan mampu bisa memperbaiki sifat fisik tanah. Dengan berbagai manfaat tersebut, bambu dapat menjadi tanaman terbaik untuk restorasi hutan dan lahan, sekaligus untuk pengembangan ekonomi masyarakat perdesaan.

Salah satu bahasan adalah PENGEMBANGAN BAMBU SEBAGAI TANAMAN REHABILITASI DAN REKLAMASI yang disajikan oleh Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diwakili oleh Direktur Konservasi Tanah dan Air, Dr. Muhammad Zainal Arifin.

Hasil penelitian Balitek DAS Solo menunjukkan bahwa bambu mampu tumbuh di ketinggian 10-2000 m dpl (di atas permukaan laut), di dataran rendah juga dataran tinggi, di batuan kapur dan batuan vulkan, semua jenis bambu disarankan dapat digunakan sebagai vegetasi perlindungan mata air, menjaga keseimbangan air. Bambu memiliki kemampuan infiltrasi air tanah yang baik, menjaga keseimbangan air-lahan yang baik, menjaga pelindung mata air, dan menjaga kelestarian mata air di sekitarnya. Kearifan lokal menunjukkan bahwa bambu sebagai tanaman perlindungan mata air.

Dalam hal terkait longsor tanah untuk menjaga stabilitas lereng, bambu dapat dipergunakan untuk mencegah longsor di zona kaki gunung, kelerengan 21-40 persen, di ketinggian 500-2000 m dpl. Juga berfungsi di dataran rendah, dengan kelerengan 0-20 persen, dan di ketinggian 0-500 m dpl.

Bambu tidak termasuk kategori tumbuhan berkayu. Oleh karena itu masih diperlukan kajian terkait penggolongan bambu sebagai kategori bukan tanaman berkayu untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) dan revegetasi pada reklamasi hutan/rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS). Bambu dalam proses reklamasi dan rehabilitasi DAS dapat digunakan sebagai penguat tebing/pencegah erosi sedimentasi/ pemecah angin. Oleh karena itu masih diperlukan intervensi untuk menjadikan bambu sebagai bagian dari tanaman untuk konservasi tanah dan air, serta pengelolaan DAS. ***

Sumber gambar: Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *