Program Kegiatan Yayasan IWF
Program Yayasan IWF dirancang sebagai kerangka kerja terpadu untuk menjawab tantangan konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan perubahan iklim secara berkesinambungan. Program utama mencakup Konservasi Keanekaragaman Hayati, Pendidikan dan Kesadaran Publik, Pemberdayaan Masyarakat, Perubahan Iklim, serta Penelitian dan Pengembangan. Setiap program dijabarkan ke dalam sub-program dan kegiatan detail dengan indikator keberhasilan yang terukur, mulai dari perlindungan spesies prioritas, restorasi habitat, PKA, sekolah hijau, pengembangan ekonomi berbasis konservasi, hingga riset terapan dan inovasi teknologi. Pendekatan ini menegaskan komitmen IWF untuk menghubungkan sains, aksi lapangan, dan kolaborasi multi pihak, sehingga seluruh program tidak hanya melestarikan keanekaragaman hayati, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial-ekologis masyarakat lokal.
Peta Wilayah Program Prioritas Kegiatan IWF
Rencana Lokasi Program Yayasan IWF disusun untuk memastikan intervensi konservasi dan pemberdayaan masyarakat berjalan strategis di kawasan dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi dan ancaman yang signifikan. Selama periode 2025–2035 wilayah kerja IWF mencakup: Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi–Maluku, dan Papua, dengan prioritas pada lokasi-lokasi yang memiliki urgensi konservasi dan potensi kolaborasi multipihak. Lokasi program prioritas meliputi: Jawa (Selabintana, Muara Angke), Sumatera (Tapanuli, Sumatera Utara), dan Bali (Bali Barat).
Fokus program di setiap wilayah disesuaikan dengan isu kunci, antara lain konservasi jalak bali (curik bali) dan ekosistem mangrove di Jawa–Bali, yang juga meliputi upaya perlindungan elang jawa dan badak jawa sebagai spesies ikonik. Di Sumatera, prioritas diarahkan pada perlindungan orangutan sumatera, orangutan tapanuli, harimau sumatera, dan badak sumatera, serta restorasi ekosistem gambut dan hutan hujan tropis. Sementara di Kalimantan, kegiatan difokuskan pada konservasi orangutan kalimantan dan bekantan, termasuk rehabilitasi kawasan gambut yang kritis. Di kawasan Sulawesi dan Maluku, perhatian utama diberikan pada perlindungan anoa dan keanekaragaman hayati pesisir, sedangkan di Papua, fokus diarahkan pada konservasi kasuari, burung endemik, dan ekosistem laut yang memiliki nilai global.


