Indonesia memiliki potensi produksi bambu cukup besar, dengan penyebarannya mulai dari Sumatera hingga ke Papua. Tetapi hanya menguasai pasar ekspor bambu dunia sebesar ±7 %. Negara eksportir bambu terbesar dunia adalah Tiongkok sebesar ±40 %. Nilai ekspor komoditas bambu di pasar dunia dari tahun ketahun terus meningkat. Eropa membutuhkan ±8,4 juta ton panel bambu per tahun, dan AS
±20 juta ton per tahun. Dengan pemasok utamanya dari Tiongkok, Vietnam dan India. Nilai ekonomi bambu global saat ini diperkirakan mencapai ± 60 miliar dollar atau setara Rp 792 triliun per tahun.
Pengembangan bambu selain memberikan manfaat sosial, ekonomi, juga mafaat ekologi. Bambu yang secara luas ditanam oleh masyarakat sebagai tanaman pagar dan kebun campuran, maka peningkatan potensi usaha bambu akan berdampak terhadap meningkatnya pendapatan dan lapangan kerja bagi masyarakat. Produk pemanfaatan bambu mulai dari industri kreatif berbagai macam kerajinan bambu, dan industri pengolahan bambu, yang menghasilkan produk parquette, softboard, scaffolding dan panel bambu, hingga budi daya rebung bambu. Secara ekologi, pengembangan bambu juga berfungsi memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. Tanaman bambu dapat menyerap karbon ±62 ton per ha/tahun, dan melepas oksigen ±35% lebih tinggi dari tanaman kayu. Karena itu bambu menjadi salah satu jenis tanaman yang terpilih untuk konservasi tanah dan air dan perbaikan lingkungan.
Implementasi pengembangan bambu di Indonesia belum berjalan optimal, karena berbagai faktor permasalahan terkait dengan Kelembagaan, teknologi budi daya, produksi, pengolahan dan industri, serta permodalan dan pemasaran. Meskipun demikian, Pemerintah melalui sektor terkait Kementerian LHK, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdaganganan sesuai fungsi dan peranannya masing-masing telah melakukan pelbagai kebijakan untuk mendorong dan meningkatkan pengembangan bambu secara berkelanjutan.

Memperhatikan latar belakang dan sebagai bentuk kepedulian terhadap upaya peningkatan pengembangan usaha bambu di Indonesia, maka The Indonesian Wildlife Conservation Foundation (IWF) bekerjasama dengan Yayasan Sarana Wana Jaya (YSWJ) menyelenggarakan Workshop “Bambu Komoditas Ekspor Masa Depan”, pada tanggal 2 Nopember 2017, bertempat di Ruang Sonokeling, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.
Kesimpulan Workshop:
- Sumberdaya Bambu Indonesia memiliki potensi cukup besar dan berpeluang menjadi komoditas ekspor nasional di masa depan, yang dapat menyumbang cukup signifkan bagi devisa Negara. Namun demikian dukungan ketersediaan data dan informasi yang akurat mengenai luas, sebaran dan produksi bambu secara nasional kurang memadai;
- Pemerintah dalam rangka pengembangan sumberdaya bambu secara nasional, telah mengambil berbagai kebijakan dan strategi mulai dari hulu hingga hilir;
- Kebijakan nasional pengembangan bambu ini ditandai oleh pencanangan “Gerakan Penanaman Bambu Nasional (GPBN)” oleh Wakil Presiden RI pada tanggal 10 September 2016, di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan;
- Meningkatan koordinasi antar Sektor terkait dalam kebijakan pengembangan sumberdaya bambu dari hulu hingga hilir yang diperkuat dengan Peraturan Bersama Tiga Menteri LHK, Perindustrian dan Perdagangan;
- Mengembangkan Sistem Informasi Management (SIM) Terpadu pengembangan sumberdaya Bambu dari hulu hingga hilir.





